Bom termasuk benda yang berukuran besar.

Foto : Tangan kiri Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur (Jaktim) Kompol Dodi Rahmawan putus saat mengamankan paket bom di Kantor Berita 68 H Utan Kayu, Selasa, 15 Maret 2011 ( Foto : DETIK.COM )
Sekali lagi, jangan cepat menyalahkan dan mengumumkan bahwa Dodi Rahmawan melanggar prosedur.
Jagalah perasaannya dan perasaan keluarganya. Sebab dalam kasus ini, Dodi Rahmawan adalah korban yang paling tragis nasibnya. Dia harus kehilangan tangannya sampai buntung. Dia menjadi cacat permanen.
Polda Metro Jaya harus tenang menangani kasus pelik ini.
Aksi terorisme dengan taktik paket bom kembar ini, pasti sudah sangat disiapkan dengan pengetahuan dan kemampuan sangat amat tinggi, mahir dan terlatih dari oknum-oknum pelakunya.

Sangat profesional !

Jadi, apapun kesalahan teknis yang menyebabkan Dodi Rahmawan sampai harus menjadi korban yang sangat tragis dalam kasus ini, berikan empati kepada Dodi Rahmawan sebab ia adalah korban.
Sekali lagi, dia adalah korban ! Dia sudah menjadi korban sehingga jangan lagi sang korban lebih dikorbankan.
Cari pelaku yang sebenarnya. Gunakan seluruh kemampuan untuk mengungkap kasus paket bom kembar ini.
Sebab, kalau pelakunya tidak segera ditangkap, maka ia akan merajalela dengan aksi-aksi teror berikutnya dengan modifikasi dan fantasi-fantasi bom yang lebih mengerikan.
Jadi, hanya ada satu kata yang paling tepat dalam situasi ini yaitu : TANGKAP OTAK PELAKUNYA !
Janganlah ada oknum tertentu yang sengaja memancing di air keruh.
Foto : Inilah buku yang dikirimkan ke Kantor Berita 68 H dan ke Kantor Pusat BNN. Buku berjudul, “Mereka Harus Dibunuh ! Karena Dosa-Dosa Mereka Terhadap Islam Dan Kaum Muslimin”.
Ya, misalnya, patut dapat diduga dispekulasikan (bisa jadi) ada yang berpura-pura mengirimi dirinya sendiri paket bom agar menjadi objek pemberitaan nasional dan internasional — sementara selama hampir 11 tahun merasa paling dikenal sebagai aparat paling jago dalam menangani aksi-aksi terorisme –.
Barangkali ( ini cuma barangkali ) karena patut dapat diduga takut dicopot dari jabatan yang ingin tetap dikuasai sehingga perlu melakukan pengalihan isu yang sangat sensasional.
Kalau tidak dengan cara sensasional begini, tak mungkin nama dan dirinya bisa mendadak jadi topik pembicaraan di media massa seolah-olah kali ini menjadi korban aksi terorisme.
Weleh Weleh Weleh !
Wah Wah Wah !

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar